Selama masih berada di negeri ini, kata teman yang sekarang berada di Morotai, maklum dan sabar adalah kata yang harus diaplikasi setiap hari.
Maka, kita harus maklum bila sopir Metromini ngebut. Mereka ngejar "setoran", katanya. Jadi mesti sabar.
Kita harus maklum bila jalan ditrotoar harus mengalah dengan sepeda motor. Jalan makin terasa sempit dan macet, katanya. Jadi mesti sabar.
Kita harus maklum bila Transjakarta makin sesak, kondisinya makin memprihatinkan.
Nah, soal maklum pula yang membuat penumpang kereta api Gumarang menjadi orang-orang yang sabar, tadi malam.
Syahdan, kereta api yang bertarif bisnis! dan eksekutif! (meski pelayanan dan standarnya tidak jelas) ini berangkat dari Surabaya sudah sesuai jadwal. Artinya, kalau mundur 5 menit masih dalam batas yang sangat-sangat wajar. Bahkan sampai di Stasiun Cepu-pun, masih sesuai jadwal. Lagi-lagi, terlambat 5 menit bukan dihitung sebagai keterlambatan. Sebelum naik kereta saya masih sempat melirik ke atas peron. Lho, spanduk yang menyatakan tekad PTKA untuk memberikan kenyamanan pada pelanggan (penumpang kali....) terutama dalam hal ketepatan waktu, kok nggak kelihatan? Ah, kereta sudah mau berangkat lagi. Segera naik, cari nomor kursi, dan tidur!
Pukul 03.00 seharusnya kereta sudah sampai Cirebon. Waktu lihat keluar jendela, yang tampak hanya hitam. Menurut penumpang di sebelah, kereta sering berhenti dan lama sekali berhentinya. Ternyata kereta blum sampai Cirebon, karena setelah berhenti (lagi) di stasiun berikutnya, yang tertulis adalah Stasiun Pekalongan! Wah, tiba di Jakarta pukul berapa ini nanti?
Akhirnya, memang kereta tiba di Stasiun Kota Jakarta, pukul 10.20 WIB. mundur dari jadwal yang seharusnya pukul 06.30. Bagusnya saudara-saudara kita adalah tidak lantas ngamuk, marah, dan ngomel ke PTKA. Hampir semua maklum, kereta api memang harus terlambat. Meskipun dalam hati pasti jengkel dan mengumpat.
Iwan Fals juga pernah bilang, terlambat dua jam tiga jam adalah hal biasa. Kalau sekarang terlambat empat jam, ya maklum dan kita harus tetap bersabar. Penumpang makin banyak, urusan yang harus ditangani PTKA juga makin banyak. Maka wajar kalau terlambatnya makin lama. Bagaimanapun, kereta api telah mengantarkan kita sampai ke tujuan dan membuat ekonomi rakyat (yang pelakunya diwakili pedagang di kereta) bergulir.
Saya masih mengingat-ingat spanduk yang berisi tekad PTKA di Stasiun Cepu untuk bisa datang dan berangkat tepat waktu dalam memperingati HUT-nya, masih ada, sudah dilepas, atau saya yang tidak melihat. Kalau tekad itu suatu saat akan diwujudkan, ah betapa mulianya PTKA nanti, semoga.